Minggu, 16 November 2014

Artike



Cara Pandang Baru Dunia Keperawatan

Suraying, Ns., M.Kep*

Jadilah perawat yang bermata elang dan berjemari bidadari yang selalu peka terhadap kebutuhan pasien dan lemah lembut dalam memberikan pelayanan 

Apakah implikasi pernyataan diatas? apakah selama ini perawat belum menunjukkan jati dirinya  sebagai profesi “sense of caring  sebagaimana Florence Nightingale yang selalu memberi pelayanan dengan lemah lembut ? dan kemudian timbul pertanyaan mendasar dalam benak saya, mengapa profesi perawatan selama ini selalu menjadi sorotan utama publik dalam pelayanan kesehatan ? masih ingatkah kita terhadap peristiwa fenomologis sepuluh Mei 2006 kemarin, yakni kasus pemukulan oleh keluarga pasien terhadap mahasiswa Akper Pamekasan di  Zaal C RSU Pamekasan yang hanya disebabkan oleh misspersepsi keluarga pasien terhadap peran edukator mahasiawa sebagai calon perawat professional? Barangkali bagi sebagian mahasiswa peristiwa ini menjadi pengalaman trauma psikologis yang membuat mereka enggan untuk memberikan “pengabdian profesional terbaiknya” bagi dunia keperawatan, namun menurut hemat penulis rasanya tidak berlebihan jika hal ini disikapi secara arif dan bijaksana oleh semua pihak terutama dalam upaya peningkatan perilaku terapeutik perawat selama memberikan pelayan keperawatan, karena mutu  pelayanan keperawatan  sangat mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan, bahkan menjadi salah satu faktor penentu citra institusi pelayanan kesehatan di mata masyarakat. Hal ini terjadi karena keperawatan merupakan kelompok profesi dengan jumlah terbanyak, paling depan dan terdekat dengan penderitaan orang lain, kesakitan, kesengsaraan yang dialami klien.
Suatu kajian baru dalam penelitian psikologi kesehatan yang menarik adalah psikoneuroimunologi yang berperan dalam pemahaman tentang efek perilaku terpeutik  pada fungsi-fungsi tubuh dan perkembangan penyakit. Psikoneuroimunologi adalah sebuah studi tentang interaksi antara sistem kekebalan, sistem saraf pusat, dan sistem endogrin (Ader dalam Prokop, 1991). Dengan bahasa yang agak berbeda, Brannon dan Feist (2000) mengatakan bahwa psikoneuroimunologi adalah kajian interdisipliner yang memfokuskan pada interaksi antara perilaku, sistem saraf, sistem endogrin, dan sistem kekebalan.
Menurut As Hornby (1874) terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan, disamping itu dapat juga diartikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan. Kemampuan terapeutik berarti seseorang telah mampu mengkomunikasikan perkataan, perbuatan, atau ekspresi yang memfasilitasi proses penyembuhan. Keperawatan merupakan suatu proses interpersonal yang terapeutik dan signifikan. Inti dari asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien adalah hubungan perawat klien yang bersifat professional dengan penekanan pada bentuknya interaksi aktif antara perawat dan klien. Salah satu indicator dari mutu pelayanan keperawatan itu adalah apakah pelayanan keperawatan yang diberikan  itu memuaskan pasien atau tidak. Pasien sebagai pengguna jasa pelayanan keperawatan menuntut pelayanan keperawatan yang sesuai dengan haknya, yakni pelayanan keperawatan yang bermutu dan paripurna.
Klien menghargai perawat sebagai seorang yang memiliki kwalitas diri, sikap, cara, dan kepribadian yang spesifik, serta selalu berada dengan klien dan bersedia setiap saat untuk menolong klien. Perawat diharapkan perannya untuk selalu berada disamping tempat tidur klien, siap setiap saat ketika diperlukan, cepat tanggap terhadap keluhan, dan turut merasakan apa yang dialami klien (empati). Klien menginginkan perawat yang melayaninya memiliki sikap baik, murah senyum, sabar, mampu berbahasa yang mudah dipahami, serta berkeinginan menolong dengan tulus dan mampu menghargai klien dan pendapatnya. Mereka mengharapkan perawat memiliki pengetahuan yang memadai tentang kondisi penyakitnya sehingga perawat mampu mengatasi setiap keluhan yang dialami oleh individual klien. Namun klien sering mengeluh bila perilaku caring yang diberikan  dirasa tidak memberikan nilai kepuasan bagi dirinya, sehingga dapat menimbulkan kecemasan bagi klien itu sendiri. Sekarang yang menjadi pertanyaan, dimanakah pentingnya ilmu psikoneuroimunologi bagi perawat?
Berdasarkan konsep psikoneuroimunologi kecemasan merupakan stressor yang dapat menurunkan sistem imunitas tubuh. Hal ini terjadi melalui serangkaian aksi yang diperantai oleh HPA-aksis (Hipotalamus, Pituitari, dan Adrenal). Stress yang akan merangsang hipotalamus untuk meningkatkan produksi CRF (Corticotropin Releasing Faktor). CRF ini selanjutnya akan merangsang kelenjar pituitary anterior untuk meningkatkan produksi ACTH (Adreno Cortico Tropin Hormon). Sehingga hormon ini yang menstimulasi kortek Adrenal untuk meningkatkan sekresi kortisol, kortisol inilah yang selanjutnya akan menekan sistem imun (Guiton & Hall, 1996). Padahal imun ini yang berfungsi melindungi tubuh dari berbagai patogen.
Asuhan keperawatan bermutu yang diberikan oleh perawat dapat di capai  apabila perawat dapat memperlihatkan sikap “caring” kepada klien. Dalam memberikan asuhan perawat menggunan keahlian, kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada di samping klien. “ caring merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti praktik keperawatan yang bersifat etik dan fisolofikal, oleh karena itu ia harus tumbuh dalam diri  perawat dan berasal dari hati perawat yang paling dalam sehingga dapat memberikan motivasi bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.
Perawat yang paham perilaku terapeutik telah menyadari bahwa interaksi dirinya dengan klien harus mempercepat proses penyembuhan. Secara psikoneuroimunologi interaksi terapeutik ini akan memicu proses adaptasi yang menghasilkan ketahanan tubuh yang lebih baik akhirnya akan mempercepat proses penyembuhan. Namun sebaliknya perilaku perawat yang kasar, judes, dan sering mengabaikan kebutuhan dasar klien akan menyebabkan proses penyembuhan terhambat. Di dalam tubuh ada sel yang namanya makrofag, diambil dari kata makro (besar) dan fag (pemakan). Itu adalah sel yang berfungsi memakan sel lain yang tidak normal, sekresi pengeluaran makrofag ini tergantung dari kondisi psikis seseorang, dalam kondisi cemas dapat memicu adanya stressor. Dalam keadaan seperti ini  makrofag tidak tersekresi maka sel –sel asing yang tidak normal  (patogen) tidak termakan sehingga kondisi seperti ini dapat menimbulkan penyakit baru.
Keberhasilan perilaku terapeutik antara perawat dan klien sangat menentukan keberhasilan tindakan yang diharapkan. Disamping itu, hubungan professional yang baik antara perawat-klien dapat menghindari, memprediksi, dan mengantisipasi berbagai penyulit yang mungkin terjadi. Namun jika perilaku perawat yang kurang terapeutik akan menghasilkan sikap/perilaku klien yang tidak patuh terhadap seluruh prosedur keperawatan dan prosedur medis. Misalnya menolak pasang infus, menolak minum obat, menolak untuk di kompres, akhirnya pasien akan meninggalkan rumah sakit dan mencari jasa pelayanan yang bermutu di tempat lain. Kurangnya komunikasi antar perawat dengan klien salah satu alasan keluhan umum klien di rumah sakit, pasien sering tidak puas dengan kualitas dan jumlah informasi yang diterima dari perawat. Oleh sebab itu sudah saatnya kepuasan pasien menjadi bagian integral dalam misi dan tujuan profesi keperawatan karena semakin meningkatnya intensitas kompetensi global dan domestik, serta berubahnya preferensi dan perilaku dari pasien untuk mencari pelayanan jasa keperawatan yang lebih bermutu. Pelayanan keperawatan pada masa kini sudah merupakan industri jasa kesehatan utama, keberadaan dan kwalitas pelayanan keperawatan yang diberikan ditentukan oleh nilai-nilai dan harapan dari penerima jasa pelayanan tersebut
Di samping  itu, berbagai peran di atas seyogyanya menjadi fokus perhatian perawat ketika menolong klien lewat tahapan dalam hubungan profesionalnya (Nurachmah, 2000). Akhirnya dengan segala keterbatasan sebagai manusia, profesi keperawatan selalu dituntut untuk menebar senyum, kesabaran dan karya mulia bagi pasien dalam keadaan apapun, meskipun profesi kita kadang terlupakan oleh mereka. Tetapi percayalah, perjuangan insan keperawatan akan sampai pada suatu masa dimana kita benar-benar dihargai sebagai sebuah profesi yang professional.

* Ketua Litbangpengmas Akper Pemkab. Pamekasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar